Bisnis itu Unik, ini Cerita saya. Sebenarnya saya sudah lama memiliki perhatian untuk terjun kedunia perniagaan sekalipun hanya kecil kecilan, untuk melengkapi perjalanan hidup, karena setidaknya dunia itu yang pernah ditekuni Rasul, sehingga mencapai sukses luar biasa, keluar biasaan kesuksesan ityu adalah dengan hasil perniagaan Rasul hasilnya memiliki kemampuan membiayai oerjuangan Rasul, semua operasional Rasul selama melaklsanakan tugas kerasulannya beliau memiliki dana operasional adalah dari hasil perniagaan yang ditekuninya. Yang harus kita teladani adalah bahwa kita harus memiliki sejumlah pemasukan atau penghasilan yang dari penghasilan
itu kita memiliki kemampuan berbagi dan membiayai dakwah kita walaupun hanya sebatas lingkungan kecil saja, Bagaimana cara melancarkan strategi dakwah kita itu akan ditulis pada kesempatan lain, tetapi kesempatan ini saya ingin katakan bahwa sekalipun kita sudah pensiun, kita masih memiliki kemampuan ataupun peluang untuk memanfaatkan sisa usia untuk berniat sesuatu yang lebih besar lagi. Kita memanfaatkan peluang dakwah dengan memaksimalkan kesempatan yang kita miliki. Ingin ... ? Maka saya akan tunjukkan jalannya.
Sebelumnya saya ingin garis bawahi dahulu bahwa untuk terjun kedunia niaga kita harus sepenuhnya didukung oleh keluarga, artinya kesepakatan yang bulan antara suami dan isteri terlalu banyak orang yang bangkrut, gagal dan berantakan karena belum mencapai kesepahaman antara suali dan isteri tentang niaga yang harus kita lakukan itu. Sebelumnya saya sudah melakukan bisnis gorengan, sedikit agak memaksanakan diri saya mempersiapkannya, dan
kurang meminta advis dari isteri, semula isteri seikit mengeritik, tetapi dijawab tuntas, argumentasi isteri segera dipatahkan, dan bisnis jalan terus. Alhamdulillah bisnis gagal total. Langkah awal adalah kita harus belajar menghargai pasangan kita, walaupun uang yang kita gunakan untuk berbisnis adalah uang kita. Bila gagal menghargai isteri atau suami, maka bersar kemungkinan bisnis akan gagal.
Untuk yang kedua ini maka gagasan bisnis sepenuhnya datang dari isteri saya, saya lebih dahulu tahu jika gagasannya untuk dagang
manakala tidak saya dukung maka akan mengalami kehancuran ditengah jalan, saya tetapkan dalam hati saya dalam dalam bahwa saya harus mendukung sepenuhnya gagasan isteri untuk membuka usaha berniaga dengan membuka warung rumahan sekalipun. Karena kami berdua harus seiring jalan, dan selalu dalam keadaan mesra seperti orang yang baru memulai pacran atau pendekatan, segala sesuatunya harus di jaga. Utamanya perasaan.
Bisa jadi kami memiliki impain yang berbeda, mungkin isteri saya berniat akan meninggalkan warisan untuk anak anak, tetapi niat saya hanya kecil kecilan, yaitu memiliki sedikit dana untuk bisa berbagi dan bisa melaksanakan atau membiayai dakwah kecil kecilan, setingkat RT atau mungkin lebih kecil lagi, serta tingkat permasalahan yang hanya lebih remeh dan temeh pula. Biarkan kami memiliki impian yang berbeda, tetapi biarkan pula kedua impian itu sama sama tercapai. Walaupun sesungguhnya anak membawa nasib nya sendiri sendiri, tetapi tak mengapa jika kita memiliki sedikit peninggalan, agar anak tak mulai dari nol. Karena yang harus kita wariskan adalah agar mereka hidup lebih produktif. Dan tak salah kta membanguin sebuah perniagaan kecil kecilan, adalah sebagai ajang latihananak anak.
Keberanian saya terjun ke dunia niaga dengan menggunakan uang vasilitas bang dengan memanfaatkan tawaran bank, dengan hitung hitungan bahwa saya tidak lagi diharapkan untuk mencari penghasilan, katakanlah uang dapur cukup didukung oleh isteri yang juga PNS dan belum saatnya pensiun. Artinya saya masih bisa hidup bersama keluarga walau hanya mengandalkan gajih isteri. Tetapi itu tak boleh, seorang laki laki akan berdosa bila hanya numpang makan kepada isteri. Artinya saya memiliki hitungan lain, suami bertanggungjawab memenuhi kebutuhan rumah tangga.
120 jutaan rupiah saya dapat dari bank. Uang yang saya dapatkan sebagai pinjaman bank dengan borg gaji yang dipotong setiap bulannya, dari gaji yang tak seberapa itu saya hanya menyisakan sekitar Rp. 1.000.000,- sejuta lebih sedikit, yang saya ambil empat bulan sekali, sedang sehari hari saya cukup dari hasil perniagaan. Belum semua hasil pinjaman bank yang saya gunakan berniaga, baru sebagian saja.Saya masih memiliki sejumlah uang dan pemasukan pun masuk hasil berniaga. Itupun relatif memenuhi kebuthan sehari hari sebagai Kepala rumah tangga. Selain memiliki kemampuan untuk berbagi walaupun dalam ukuran yang relatif kecil, tetapi terus terang akan tak mungkin bisa saya lakukan tampa berniaga kecil kecilan.
Modal di atas merupakan jumlah yang lumaian bagi seorang pengantin baru dengan rumah ngontrak dan lain sebagaimana, dibanding dengan saya mungkinsaya lebih longgar, tetapi syarat untuk mempertahankan situasi seperti ini adalah hubungan suami isteri benar benar harus dipelihara keharmonisannya, ibarat kata adalah harus seperti baru pacaran, dijaga seketat mungkin agar kita tidak melakukan kesalahan. Bila ada perselisihan dalam pendapat, lalu berebut untuk ngalah, masing masing berusaha menyenangkan pasangan, dan menanamkan kepercayaan seperti dahulu waktu pacara. Dagang dan berniaga, sekecil apapun dagangan kita, maka kekompakan antara suami isteri serta saling mendoakan, adalah sebuah keharfusan.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar